30 Hari Kemudian...
Gowes blusukan ke area perbukitan di sekitaran Pasir Jambu beberapa hari lalu nggak tahu kenapa, rasanya nggak seperti biasanya. Jantung terasa seperti kaget, dan napas juga rasanya lebih pendek dari biasanya. Mungkin ini yang bakal terjadi pada tubuh ringkih pesepeda jelata seperti saya ini ya.
Seingat saya, terakhir kali saya gowes adalah di event Ride Origins #3. Setelah itu, alhamdulillah ada saja kesibukan mendadak yang harus segera diselesaikan, dan itu bikin saya harus melepas jadwal gowes rutin saya. Sekali, dua kali, eh bablas sampai 4 minggu. Beberapa rute incaran cuma jadi file GPX mentah di handphone. Rute yang belum pernah saya coba.
Nah, Minggu lalu adalah kali pertama saya buat kembali gowes setelah 4 minggu libur. Rute yang saya pilih adalah rute terpendek dari beberapa rute yang sudah saya riset dan saya siapin sebelumnya. Agak kesiangan, jam 7 pagi baru berangkat dari rumah menuju ke selatan. Sarapan bubur ayam langganan di simpang Sadu, Soreang. Jam 08.30 baru mulai masuk rute yang saya incar.
Sambutan hangat langsung saya terima. Jalur nanjak sejauh 3,5 kilometer dengan gradien maksimal 19%. Awalnya saya masih sedikit sombong, menganggap tanjakan segitu mah gampang lah. Ternyata apa yang ada dalam pikiran nggak selamanya singkron sama fisik jooww. Jantung langsung main torsi tinggi aja.
Selesai tanjakan pertama, sampai di puncak bukit yang entah apa namanya, istirahat dulu agak lama. nurunin heart rate dan juga sekalian benerin napas jooww. Tiba-tiba payah. Cek Google Maps, kayaknya masih ada tanjakan lagi di depan, karena seingat saya titik tertinggi rute ini adalah 1.290 mdpl. "Wah, masih kurang 120 meter vertikal lagi nih", sedikit ngedumel juga sambil atur napas.
Sejujurnya, kangen banget sih sama suasana perbukitan. Sepi. Cuma suara burung-burung liar yang entah dari mana asalnya. Yang jadi kendala, ketika fisik sudah kelamaan istirahat dari aktivitas berat, tiba-tiba melehoy. Maju sedikit, berhenti, istirahat. Gitu terus sampai beberapa kali. Nggak masalah sih. Toh kan cuma gowes cross country ringan saja, tanpa embel-embel target waktu.
Sampai di puncak, tinggal menikmati jalur turun, melintasi jalan perkampungan. Dari jalur aspal dan beton, lama kelamaan berubah menjadi jalur berbatu. Suasana perkampungan terpencil juga berubah jadi barisan pepohonan pinus yang tinggi menjulang dan rimbun. Ya Allah.... Terbayar sudah jerih payah gowes uphill yang lumayan menguras tenaga tadi.
Dalam perjalanan pulang, rolling-rolling di jalur relatif datar, air minum menipis. Nah, mulai lagi kendala berikutnya. Kepala tiba-tiba mulai pusing. Saya pikir ini pasti karena dehidrasi, lalu saya minum agak banyak dari biasanya. Tenggorokan terasa lebih kering akibat alur napas saya yang lebih intens dari biasanya.
Akhirnya sampai di rumah jam 2 siang. Simpan sepeda, buka sepatu, istirahat sebentar, langsung lanjut mandi. Rutinitas biasa, seperti yang saya lakuin setiap pulang dari gowes. Tapi bedanya, kali ini badan jadi terasa kayak meriang gitu. Hahaha....
Kayaknya memang harus lebih sering gowes lagi nih. Biar fisik nggak manja kayak gini lagi. Baru 5 hari kemudian dari sejak gowes saya terakhir ini badan baru mulai terasa agak mendingan. Lanjut gowes lagi ah. Rute selanjutnya mau realisasi rute incaran saya sebelumnya. Uphill, tapi nggak panjang sih nanjaknya, cuma ya pedes aja. Hayu ah?
Komentar
Posting Komentar